Minggu, 28 Agustus 2016

Budidaya Polikultur Udang Windu dan Bandeng



Kini sektor perikanan memiliki peran yang besar dalam memenuhi asupan gizi penduduk dunia yang kian bertambah, meliputi perikanan tangkap maupun perikanan budidaya. Namun seiring berjalannya waktu hasil tangkapan ikan di laut mengalami penurunan sehingga dikhawatirkan sudah tidak lagi mampu memenuhi kebutuhan pangan penduduk bumi. Oleh karena itu, perikanan budidaya sangat diperlukan untuk menunjang ketersediaan bahan pangan di masa kini maupun masa depan. Salah satu komoditas perikanan yang sudah banyak dikenal masyarakat Indonesia adalah udang windu dan ikan bandeng. Indonesia sebagai salah satu negara pengekspor udang tentunya harus mampu memproduksi udang dalam jumlah yang besar.

Budidaya udang windu secara monokultur tak pernah lepas dirundung masalah penurunan bahkan kegagalan produksi. Guna mengatasi kendala tersebut, kini para petambak menerapkan budidaya udang windu secara polikultur, salah satunya budidaya pembesaran bersamaan dengan ikan bandeng.


Budidaya polikultur ini cukup menguntungkan petambak, karena bisa panen dua komoditas sekaligus dalam satu siklus budidaya. Tak hanya untung secara ekonomis, dari segi teknis pemeliharaan juga lebih mudah dan murah. Pasalnya, gerakan atau kepakan ikan bandeng bisa berfungsi sebagai kincir alternatif untuk pemasok oksigen terlarut maupun untuk menghindari terjadinya stratifikasi (pelapisan) suhu dalam air. Secara biologis persyaratan parameter kualitas air untuk kehidupan udang dengan bandeng sama. keduanya tidak akan saling kanibal karena udang windu hidupnya didasar sedangkan bandeng dipermukaan air.


Berikut merupakan langkah-langkah yang harus dilakukan untuk melakukan budidaya polikultur udang windu dan bandeng, yaitu :

1.  Siapkan Petak Ipukan 
            Teknis polikultur dimulai dengan persiapan petak pendederan atau penggolondongan (ipukan) berukuran 20x10 m  dengan kedalaman 50-100 cm, yang dibuat dalam petak tambak seluas 1ha. Petak penggelondongan itu bisa terbuat dari pematang kecil atau dari kasa nilon berwarna biru dipasang berbentuk pagar keliling dengan bantuan patok bambu. Agar banur atau nener terlindung dari panas matahari atau air hujan secara langsung dikeliling petak sebaiknya ditancapkan daun kelapa.

            Sebelum benih ditebarkan didalam petakan tambak, dilakukan pengolahan tanah lebih dahulu dengan cara keringkan tanah, mengangkat lumpur diparit, dan penutupan bocoran pematang. Pemupukan dasar dengan  petroganik sebanyak 500 kg, kapur dolomit 700 kg atau disesuaikan dengan kondisi pH (keasaman) tanah dasar tambak.

            Persiapan lainnya adalah pemberantasan ikan liar sebagai hama dengan saponin super 25 kg dengan kondisi air dibawah lutut diparit keliling. Tiga hari kemudian dilakukan pemupukan air sampai ketinggian 5 - 10 cm di pelataran. lalu diberikan pupuk phonska 100 kg sebagai pupuk pancingan untuk menumbuhkan klekap, plankton, cacing kecil, larva serangga, dan jasad renik lainnya.

          Biarkan air di pelataran menguap selama 3-5 hari, pada pasang surut berikut dilakukan pemasukan air bertahap hingga ketinggian 50-75 cm di pelataran. untuk menyuburkan plakton dan makanan alami lain maka diberikan 2 liter pupuk cair hayati.



2.     Tebar Benur Panter 
            Satu minggu kemudian air dipetakan tambak berwarna coklat kebiruan dengan salinitas (kadar garam) 25 per mill. sebagian dasar pelataran tumbuh klekap pada siang hari, sebagaian lepas ke permukaan air. Benur panter (tokolan udang sebesar biji korek dengan laju pewrtumbuhan setelah di tambak menyerupai mobil panter) 10.000 ekor yang dibeli dari pengusaha penggelondong ditebar dipetak ipukan. selama 10-15 hari dengan bantuan pakan buatan anak udang itu dilepas ke petak pembesaran dengan cara membobol pematang.

            Saat anak udang dirawat di petak gelondongan, maka saat itu pula bandeng gelondong sebesar rokok sebanyak 2.000 ekor dilepas lebih awal di petak pembesaran untuk menyantap klekap yang sudah tumbuh padat. selain klekap, tumbuh juga makanan alami lainnya seperti lumut perut ayam dan tumbuhan air (hydrilla), petambak Sulsel menyebutnya gosse atau sampine. jika jenis tanaman ini tumbuh ditambak pertanda tingkat kesuburan bagus dan panen udang serta bandeng akan berhasil.


3.     Pacu Pertumbuhan 
            Untuk memacu pertumbuhan udang dan bandeng maka diberi pakan tambahan berupa pellet sesuai komoditasnya. pellet ini diberikan pagi dan sore. Agar pakan alami selalu tersedia maka setiap 10 hari diberi pupuk phonska susulan sebanyak 10 kg/ha.

            Selama masa pemeliharaan yang sangat penting dilakukan adalah memperhatikan kondisi air. jika kondisi air selalu terjaga (jernih dan dingin) udang akan bisa tumbuh dengan baik. Periksa secara berkala air tambak dan jagalah tingkat pH sampai mencapai batas ideal, yaitu 7,5-8,5 dan kadar garamnya air 15-22 per mil. Selain perawatan air, pakan udang juga harus selalu cukup dan bergizi tinggi, sehingga perkembangannya pesat.

            Jika pemeliharaannya bagus, maka dalam waktu tiga bulan udang sudah dapat dipanen dan bandeng dapat di panen pada umur 4-5 bulan. Namun dalam uji coba yang dilakukan oleh penulis dalam petak 1 ha tambak di jampue kecamatan Lanrisang Pinrang bisa panen udang lebi awal ketika ber umur 70 hari di petak pembesaran dengan size (ukuran) rata-rata 45 ekor/kg. Sedang bandeng dipanen pada umur 4 bulan dengan size 2-3 ekor/kg.

            Dari uji coba tersebut dapat disimpulkan bahwa dengan persiapan lahan yang sempurna dengan menumbuhkan pakan alami yang cukup, bisa menghemat penggunaan pakan buatan. Penggunaan pakan ipukan dengan merawat benur panter selama setengah bulan berarti memperpendek masa pemeliharaan dipetak pembesaran sehingga terhindar dari serangan penyakit.

            Sebenarnya umur banur yang dilepas dipetak pembesaran sekitar 25 hari setelah keluar dari hatchery (pembenihan). Teknologi sederhana tersebut lebih bagus dikembangkan secara berkelompok dalam satu hamparan dengan membuat satu petak tandon agar air yang digunakan benar-benar terhindar dari virus penyebab penyakit. Untuk mendorong kebangkitan udang windu maka pemerintah diharapkan memperbanyak petak uji coba dan mengucurkan bantuan modal bagi wirausaha perikanan pemula dengan tepat waktu, jumlah dan tepat mutu, serta bimbingan teknis secara rutin.  


Analisis Usaha Polikultur Udang Windu dengan Ikan Bandeng :

Biaya Oprasional
1. Sewa Lahan Rp 1.250.000/siklus
2. Benih udang 10.000 ekor senilai Rp 300.000
3. Benih ikan bandeng 2.000 ekor senilai 400.000
4. Pupuk organik senilai Rp 350.000
5. Pupuk phonska 200 kg senilai Rp 460.000
6. Kapur dolomit 20 karung senilai Rp 200.000
7. Pakan udang 50 kg senilai Rp 375.000
8. Pakan bandeng 100 kg senilai Rp 600.000
9. Saponin 25 kg senilai Rp 115.000
10. Pupuk cair hayati 2 liter senilai Rp 100.000
11. Perbaikan bocoran pematang Rp 1.500.000
12. Upah penjaga tambak senilai 4.500.000
13. Total biaya oprasional Rp 10.150.000 

Pendapatan 
1. Panen udang 155 kg senilai Rp 7.750.000
2. Panen bandeng 850 kg senilai Rp 11.475.000
3. Total Pendapatan Rp 19.225.000

Keuntungan
Keuntungan yang di peroleh selama satu siklus pemeliharaan (3-4) bulan sebesar Rp 9.075.000 


Sumber : Salam, A. dan Yusuf, M. 2011. Tahapan Polikultur Udang Windu.  http://pusluh.kkp.go.id/arsip/c/50/?category_id=2.
Diakses tanggal 27 Agustus 2016 pukul 19.00.


Nama              : Sarita Salma Hanum
NIM                : 14/367128/PN/13804
Golongan        : A 3. 1
Kelompok       : 2

1 komentar:

  1. ANALISIS ARTIKEL CYBER EXTENSION

    Nama : Andita Ratih Dewanti
    NIM : 14/365073/PN/13655
    Golongan : A3.1
    Kelompok : 1
    a. Nilai Penyuluhan
    • Sumber Teknologi / ide : Kegagalan produksi petambak udang
    • Sasaran : Pembudidaya udang, pembudidaya bandeng
    • Manfaat : Petani/pembudidaya udang dapat membudidayakan dua komoditas sekaligus dalam satu siklus budidaya.
    • Nilai Pendidikan : Menjelaskan cara melakukan polikultur udang dan bandeng
    b. Nilai Berita
    • Proximity
    Tulisan di atas bersifat dekat dengan petambak, hal ini dibuktikan karena artikel di atas menjelaskan tentang budidaya udang dan bandeng.
    • Importance
    Tulisan di atas mengandung informasi yang dibutuhkan oleh pembudidaya udang, karena budidaya monokultur udang seringkali mengalami kegagalan produksi.
    • Policy
    Tulisan di atas selaras dengan kepentingan petani/pembudidaya udang yang sering mengalami kegagalan produksi.
    • Consequence
    Budidaya polikultur udang dan ikan dapat meningkatkan produktivitas lahan budidaya karena dapat membudidayakan dua komoditas sekaligus dalam satu siklus budidaya.
    • Development
    Budidaya polikultur udang dan ikan merupakan pembangunan di bidang perikanan karena dapat membudidayakan dua komoditas sekaligus dalam satu siklus budidaya (perkembangan teknologi budidaya).
    • Human Interest
    Membudidayakan dua komoditas sekaligus dalam satu siklus budidaya merupakan inovasi yang menarik bagi pembudidaya perikanan.

    BalasHapus